Pendapat Mahasiswa Universitas Halim Sanusi, Imbas Migrasi Siaran Televisi Digital Analog Switch Off (ASO) Tahap II, 2 Desember 2022.

Minggu, 04 Desember 2022

Silvy Khofifah Fauziyah

Televisi merupakan salah satu media audio visual yang paling diminati masyarakat Indonesia. Hampir setiap keluarga memiliki televisi di rumahnya. Namun, seiring berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi, membuat media ini pun harus ikut berkembang guna menyesuaikan dengan teknologi. Pada tanggal 2 Desember 2022, salah satu daerah di Jawa Barat yaitu Bandung mendapat giliran migrasi siaran siaran televisi dari analog ke digital. Dikutip dari Kantor Siaran Berita Antara, bahwa hal ini adalah imbas dari pelaksanaan Analog Switch Off (ASO) tahap II. Wilayah yang mendapat giliran untuk pelaksanaan ASO tahap II ini antara lain Kota Bandung, Yogyakarta, Solo, Semarang dan Batam.

Hal ini membuat banyak warga resah karena televisi mereka tidak siap memperbaharui siarannya, karena mereka belum mempunyai alat penangkap siaran digital, Set Top Box. Warga yang tidak siap panik dengan berebut membeli set top box, media sosial pun tak kalah riuh, banyak keluhan muncul akibat migrasi tv digital ini. Namun hal berbeda dialami oleh salah satu mahasiswa Halim Sanusi Bandung, “Kalau saya kebetulan dirumah sudah beralih ke digital, sehingga saya tidak terlalu kaget ketika terjadi perpindahan tersebut. Dengan perubahan suara yang jernih dan channel yang banyak memudahkan saya untuk menonton televisi tanpa adanya gangguan”. Ungkap Hafidah.

Pada pendapat yang lain, Febby Fazar Rinzani mengatakan bahwa ada dua sisi positif dan negatif yang terdapat dalam pemasangan set top box. Sisi positifnya adalah banyak channel baru yang tertangkap sinyal set top box, suara berubah menjadi jernih, gambar tidak buram, serta isi channel banyak yang menyiarkan tontonan edukasi. Sisi negatif yang dirasakan Febby adalah ia merasa masyarakat yang tidak mampu membeli set top box tidak bisa lagi menontin televisi. Maka, solusi yang dapat diberikan adalah mencari alternatif lain untuk menonton seperti pada telepon genggam ataupun komputer. Dan bagi warga pelosok desa yang tidak bisa menonton, bisa beralih mendengarkan berita di media auditif berupa Radio. “saya pun sampai saat ini masih mendengarkan Radio dan itu tidak kalah menariknya dengan televisi”. Ujar Febby.

Perlu diketahui, bahwa Analog Switchh Off (ASO), adalah program dari pemerinta berupa migrasi siaran televisi analog ke siaran televisi digital. Dalam website indonesiabaik.id dijelaskan bahwa ASO ini merupakan pelaksanaan amanat UU Cipta Kerja, yang diemban oleh pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) yang bertugas menghentikan penyiaran Televisi (TV) analog untuk beralih ke siaran TV digital atau disebut Analog Switch-Off (ASO).

Dikutip dari website resmi Kominfo, Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Kominfo Usman Kansong menyatakan migrasi sistem penyiaran televisi dari analog ke digital memiliki banyak manfaat bagi masyarakat, lembaga penyiaran, maupun negara. Dengan beralih ke TV Digital, masyarakat akan menikmati kualitas siaran TV yang lebih baik karena gambarnya lebih bersih, suaranya lebih jernih dan teknologi yang lebih canggih. menyatakan pilihan konten siaran bagi masyarakat juga akan menjadi semakin banyak dan beragam jenisnya, dan dapat dinikmati secara gratis, serta akan terjadi pemerataan siaran televisi berkualitas di seluruh daerah di dalam negeri. Selain itu, Migrasi ke TV Digital ini berhubungan dengan jaringan 5G. Sebab, slot frekuensi 700 MHz yang ditinggalkan TV analog dapat digunakan untuk jaringan baru tersebut, sehingga akan membuat kecepatan internet di Indonesia semakin bertambah.

Robby Rachman Nurdiantara, Dosen Prodi Komunikasi Universitas Halim Sanusi menyatakan, Migrasi siaran televisi digital ini, berpeluang menghadirkan stasiun-stasiun televisi baru khususnya didaerah. Sehingga berpotensi untuk melahirkan keragaman konten serta membuka lowongan pekerjaaan baru. Ini juga menjadi peluang agar kelak mahasiwa Universitas Halim Sanusi yang berminat untuk bergabung didunia penyiaran, dapat menjadi insan penyiaran yang berkualitas dengan menghasilkan konten-konten siaran yang berkualitas pula. Diharapkan melahirkan konten siaran yang kreatif dan inovatif, termasuk konten dengan muatan kearifan lokal demi kemajuan masyarakat. “Walau bagaimanapun teknologi dan globalisasi adalah sebuah keniscayaan, tetapi yang paling penting kita harus mampu memfilternya, agar dampak dari teknologi dan konten siaran yang negatif dapat kita tumpulkan, salah satunya dengan prinsip ‘think globally, act locally‘ tutup Robby. (RRN)



Tinggalkan Balasan